“aku sebentar lagi akan meninggalkan Indonesia, aku mau belajar di luar negri..”
“he? kemana..? kok tiba2..? kita ketemu aja belum pernah..”
“udah pernah kok, sering malah.. kamu aja yang ga sadar..”
“jangan pergi.. kalo ga ada kamu, aku curhat sama siapa? temen curhatku cuma kamu, meskipun hanya lewat sms..”
“aku akan selalu nemenin kamu.. aku udah janji kan..?”
perempuan itu terduduk lunglai di kursi meja belajarnya. matanya basah, tapi air di pelupuk matanya enggan turun meninggalkan jejak pada pipi sang perempuan. malam beranjak semakin larut.. di luar kamar kos, jangkrik berderik mengiringi irama angin yang bermain dengan dedaunan, bulan masih saja bersinar dan bercanda dengan bintang-bintang gemerlap..
“aku akan pergi besok pagi2 sekali.. jangan pernah lupakan aku ya? aku akan kembali..”
di kamar kos yang lain, seorang laki-laki sibuk mengemas barang-barangnya sambil terus mengirim dan menerima pesan melalui telfon genggamnya. kamar itu sudah hampir kosong.. yang tertinggal hanyalah perabotan kamar kos, sebuah foto perempuan dalam bingkai sederhana, beberapa lembar kertas surat, dan sebuah pena..
malam kian larut.. laki-laki itu masih duduk tegak di depan meja tulisnya, merangkai huruf, kata, dan kalimat untuk perempuan pujaannya. dingin angin yang menyelinap melalui celah di jendela sesekali menggoda dan membuatnya merinding.. hanya ada dia, dan sepasang mata lain dalam ruangan itu.. sepasang mata yang sepertinya terus saja memperhatikannya dari dinding kamar.
sementara itu, di kamar kos yang lain, seorang perempuan tertidur dengan telfon genggam di tangannya, dan noda air mata pada bantal.. beralaskan sepi, berselimut harapan..
sebelum bola kuning kemerahan merekah dari ufuk timur, seorang laki-laki berjingkat di luar kamar kos perempuan itu. perlahan, ia menyelipkan sebuah amplop berisi surat tulisannya ke bawah lubang pintu kamar si perempuan. sang perempuan yang memang sudah terjaga dan hendak mengirim pesan pada si laki-laki, menoleh ketika mendengar gemerisik kertas yang beradu dengan daun pintu. sebuah amplop putih menyelinap masuk. perempuan menyambar jaket yang tergantung, dan segera membuka pintu kamarnya.
mereka kini saling berhadapan. perempuan bermata sembab, dan laki-laki dengan raut wajah terkejut. perempuan itu termangu, keningnya berkerut.. sang lelaki kemudian tersenyum..
“aku pergi sekarang..”, dan laki-laki itu melangkah pergi meninggalkan perempuan dengan sorot mata tak mengerti. tapi perempuan itu membiarkannya pergi..
Vira,
maaf selama ini aku tidak pernah memberikan identitasku yang sebenarnya. aku sudah terlalu nyaman menjadi laki-laki yang menemani hari-harimu, menjadi laki-laki tempat kau mencurahkan kegelisahan, kesedihan, dan juga kebahagiaanmu. aku lah yang selama ini kau sebut “malaikat penjaga”mu.. aku tidak pernah berbohong bukan? aku selalu ada di dekatmu..hari ini aku harus pergi untuk kelanjutan studiku. entah kapan kita akan bertemu lagi.. mungkin saat aku kembali, kau sudah memiliki malaikat lain untuk menjagamu. tapi percaya lah, meski aku jauh, aku akan selalu menjadi malaikat penjagamu..
kumohon jangan menangis.. jangan biarkan mata indahmu menjadi merah karena menangis.. aku masih bisa menemanimu melewati kegelisahanmu, aku masih bisa menemanimu tertawa.. aku masih bisa menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat pagi, dan menjadi yang terakhir mengucapkan selamat malam..
namun, jika identitasku membuatmu kecewa, aku mohon maaf. maafkan aku yang hanya berani mencintaimu dari jauh.. maafkan aku yang hanya mampu menemanimu melalui sms dan email.. maafkan keterbatasanku.. aku hanya lah seorang beast yang jatuh cinta pada seorang beauty. wajah buruk rupaku akibat kebakaran, dan tanganku yang tidak sempurna bukanlah paduan yang pantas untuk perempuan seindah dirimu..aku mohon diri.. dan aku memohon maafmu..
temanmu selalu, Arie..
Perempuan bernama Vira itu berlinang air mata, dan berlari keluar kamar mencari laki-laki yang tadi dilihatnya di depan pintu. Laki-laki yang menyelipkan surat di bawah pintunya.. Laki-laki bernama Arie. Tapi Vira tidak menemukan siapapun di luar rumah kosnya. Hanya ada kicau burung yang mulai ramai terdengar, dan semburat jingga mentari yang baru saja terbangun..
Laki-laki teman curhatnya selama ini, ternyata adalah teman kuliahnya.. Teman kuliah yang selalu berbaik hati pada semua orang, meski tak jarang mendapatkan pandangan meremehkan. Arie.. Laki-laki dengan kondisi fisik yang kurang beruntung, tapi memiliki hati emas yang luas seperti samudra, dan kecerdasan di atas normal yang tidak pernah ia gunakan seorang diri..
Iya, laki-laki itu bernama Arie..













