“jika esok aku pergi bersama embun yang menguap,
apakah kamu akan berusaha menemukanku?
apa kamu akan menyibak setiap rumput dan ilalang?”
malam ini kelam ‘tak berbintang..
awan-awan terlalu rapat dan tebal,
menelan kerlip nakal bintang kecil,
hanya ada angin yang sibuk hilir-mudik,
menyapa setiap dedaunan dan serangga..
“jika esok aku pergi bersama embun yang menguap,
apakah kamu akan berusaha menemukanku?
apa kamu akan menyibak setiap rumput dan ilalang?”
kini malam hening..
angin pun sudah terlelap disela-sela pepohonan..
seekor kepik kecil berdiam di atas sehelai daun,
sayap merah berbintik hitamnya tak mengepak,
mata kecilnya yang biasa bergerak liar, kali ini tertutup..
dan tiba-tiba daun di bawahnya bergetar dan basah,
setetes kecil air menetes di atasnya,
kepik itu menangis..
malam ini kepik merah berbintik hitam sendiri,
tidak ada kepik kecil lain yang menemaninya..
hanya bulan yang tak lagi penuh, dan dinginnya malam..
sekali lagi, kepik kecil bertanya pada malam dan kesendirian..
“jika esok aku pergi bersama embun yang menguap,
apakah kamu akan berusaha menemukanku?
apa kamu akan menyibak setiap rumput dan ilalang?”