akhir-akhir ini, aku baru menyadari sesuatu.. ternyata, aku memang harus menikahi laki-laki dengan latar belakang teknik.. hehe.. bekerja di perusahaan penerbit seperti ini, memperluas pergaulanku. sebagai editor, mau tidak mau, aku bergumul dengan orang-orang yang jago bahasa.. kebanyakan editor di sini perempuan, hanya ada segelintir laki-laki, apalagi laki-laki yang latar belakangnya teknik. mungkin cuma divisiku saja yang ada laki-laki berlatar belakang tekniknya, karena memang yang kami kerjakan adalah buku teks kuliah MIPA dan teknik.
aku sih, nyaman-nyaman saja bergaul dengan semuanya.. eh, ada sih beberapa yang bikin ga nyaman *lirik manusia purba*, tapi rata-rata seru dan menyenangkan kok. apalagi mereka-mereka yang punya latar belakang pendidikan berbeda denganku. sosial. apa pun jurusannya. aku sering terkesima dengan pengetahuan mereka tentang tokoh-tokoh Indonesia *dan dunia juga*. sementara aku rasanya tidak mengenal sosok-sosok yang mereka bicarakan, mereka bisa membahas tentang orang-orang itu dengan detail. wow! awalnya sih aku suka dengerin, karena memang itu hal baru untukku. tapi lambat laun, aku bosan. bagiku, apa sih asiknya politik? apa sih asiknya orang-orang itu? sebagai perempuan saja, aku tidak peduli pada gosip artis. sering kali saat berkumpul dengan teman-teman perempuan, aku tidak tahu siapa yang mereka bicarakan. padahal, katanya, orang itu artis. ah, peduli apa aku?
nah, punya pacar calon suami dengan latar belakang teknik dan punya teman-teman satu lingkungan dengan latar belakang sosial, membuatku membuka mata. sepertinya aku memang lebih cocok punya suami *imam* yang berlatar belakang teknik deh. hey, ini bukan diskriminasi or what-so-ever ya.. mungkin karena ayahku yang teknik banget, dan aku terdidik dalam keteknikan beliau, ditambah dengan aku yang kuliah di jurusan teknik, dan berkubang bersama teman-teman yang sama-sama teknik, aku jadi lebih menikmati pembicaraan “anak teknik” dibandingkan “anak sosial”. bahkan.. aku prefer laki-laki teknik daripada laki-laki yang dari kedokteran. padahal, kurang bright apa sih mereka? ya kan? tapi ya ituuu.. seumur hidupku sepertinya aku sudah dicelupkan ke dalam dunia teknik.. meskipun aku cinta juga sih kepalangmerahan..
so, Didik Pramuji.. dengan segala ketidakromatisanmu itu, dengan segala hobimu yang berhubungan dengan elektronik, ngoprek, dan lain-lain itu.. yes, I have chosen you.. ya, aku nyaman bersamamu, meskipun kamu kadang bikin aku sakit kepala karena ngomongin teori kontrol saat kita makan malam 😉 atau ketika kamu ngomongin masalah fenomena transpor *iya, aku memang dapet nilai A, tapi udah lupa tuuu*. meskipun aku mungkin ga bisa juga kalo soal-soal teknik, atau tetep aja bloon kalo dengerin mereka-mereka ngomongin masalah yang teknis-teknis gitu, but hey, this is my world.. and I’m lovin’ it.. thanks to my beloved father.. :*

You must be logged in to post a comment.