panekuk pisang meises

 

alkisah ketika sedang hamil tua, saya diajak ibu saya ke rumah temannya di bilangan Cinere. pagi itu saya sudah sarapan, tapi saat tiba di rumah teman ibu ternyata saya merasakan lapar yang amat sangat. alhamdulillah, ternyata si tante baru saja bikin panekuk untuk sarapan anaknya *yang teman saya kuliah*. dan inilah resep dari beliau.. (terus kenapa bahasa gw jadi aneh begitu ya?)

panekuk pisang meises

 

 

BAHAN

1 cup terigu
1,5 cup susu cair
1 sdm gula
1 sdt garam
1 sdt baking powder
3 telur
3 sdm margarin cair

 

CARA MEMBUAT

1. campurkan semua bahan kering, aduk rata.
2. tambahkan telur, margarin cair, dan susu sedikit demi sedikit. aduk.
3. buat dadar.
4. bagi pisang menjadi 4 bagian memanjang, letakkan di pinggiran panekuk yang sudah dingin, taburkan meises, gulung.
5. sajikan dengan tambahan taburan meises dan sirup cokelat.

YUMMY!!! :9

ekspresi kasih sayang

lima tahun bersama Didik telah mengajarkan aku banyak hal. dari hal-hal sederhana, sampai hal-hal besar dan mendasar seperti cara beragama. salah satu hal yang akhirnya ikut merasuk ke kepalaku dan sikapku adalah pilihan kami untuk tidak mengumbar kemesraan di depan umum. sejak jaman pacaran yang sebenernya ga diperbolehkan agama itu *nunduk* kami ga pernah jalan gandengan tangan di kampus. somehow rasanya ga etis aja sih, di area pendidikan seperti itu terus malah mesra-mesraan.

jadi, apa sih sebenernya yang bikin aku pengen nulis tentang ini? tergelitik foto yang diposting seorang teman di facebook sebenarnya. seorang yang setahuku tidak mengenal pacaran, tapi begitu menikah ternyata mengumbar foto yang menurutku hanya pantas jadi konsumsi pribadi saja. engga, ga ekstrim-ekstrim banget memang, tapi cukup bikin saya mengernyitkan dahi. untuk beberapa orang mungkin foto itu biasa saja, bahkan mungkin bisa dijadikan pose foto prewedding yang sekarang semakin marak, tapi tidak untukku.

setiap orang pasti punya cara tersendiri untuk mengekspresikan rasa sayangnya pada pasangan. dulu ada teman yang memposting foto masakan istrinya ke facebook dengan caption berupa pujian, ada juga yang menulis puisi untuk pasangannya, ada yang bermesraan di facebook/twitter dengan pasangannya melalui status atau obrolan antara mereka berdua *yang tentu saja terbaca oleh banyak orang*. tapi di sisi lain, banyak juga pasangan yang tidak terlihat mesra di jejaring sosial, tapi sebenarnya sangat mesra dalam kehidupan nyata. ada yang romantismenya ditunjukkan kepada khalayak ramai, ada juga yang romantismenya hanya dinikmati pasangan itu sendiri.

aku? Didik bukan tipe laki-laki perayu, bukan tipe laki-laki berkata-kata manis, pun tidak dengan sikapnya. Didik itu, laki-laki biasa saja yang jarang mengekspresikan perasaan sayangnya padaku. apa aku keberatan? tentu tidak, karena kalau keberatan ya ga mungkin dong bisa sampai lima tahun, menikah, dan punya anak perempuan kecil yang lucu itu? tapi, TAPI nih ya.. Didik punya cara tersendiri untuk mengungkapkan kasih sayangnya padaku. amazingly, I understand. aneh. mana pernah Didik kirim surat cinta, merayu-rayu mesra, bikin puisi, nyanyi untukku, kirim lagu untukku, apalagi memuji-mujiku di jaring sosial. kadang memang suka iri sama teman lain yang suka dipuji suaminya di jaring sosial, tapi di sisi lain aku juga bersyukur karena pujiannya untukku menjadi sesuatu yang spesial, tidak terumbar.

hah. I’m blabbering. I better stop. intinya, semua orang punya caranya tersendiri untuk mengekspresikan perasaan pada pasangan. umm.. tapi… bisa ga ya kalo ga usah bikin mata sepet? 😀 *akhirnya si orang itu ku-hide dari timeline*